Mediator Jurnal TV
(Syamsam,S.S_Guru Madrasah SulSel)
Fenomena siswa dan orang tua siswa melaporkan gurunya menjadi hal yang tidak asing lagi dalam dunia pendidikan saat ini. Menilik beberapa kasus guru yang dilaporkan menjadi hal yang memprihatinkan bagi wajah pendidikan. Entah siapa yang salah?. Menjadi pertanyaan besar untuk mengurai persoalan ini. Pasalnya, seorang guru mendapat teguran dan laporan akibat upaya seorang guru dalam mendisiplinkan siswanya agar mau tunduk pada aturan sekolah, menjaga keamanan dan ketertiban sekolah serta menjaga adab dan akhlak kepada guru-gurunya maupun kepada sesama teman-teman mereka. Akan tetapi, realita yang terjadi sebagaimana kasus seorang guru di Sumatra Utara yang dilaporkan oleh orang tua siswa akibat melakukan tindakan untuk melerai siswanya yang berkelahi. Seorang kepala sekolah mendapat teguran akibat menegur dan secara refleks menampar siswa akibat ketahuan merokok dan berbohong dihadapannya. Viralnya foto Seorang siswa yang duduk disebelah gurunya dengan gaya santai sambil merokok walau foto ini dikatakan terjadi pada tahun 2016 lalu di Makassar (jakarta.tribunnews.com). Dan beberapa deretan kasus dan polemik yang dirasakan oleh guru sebagai pendidik menjadi perjalanan sejarah memilukan bagi dunia pendidikan di bumi pertiwi.

Padahal, guru adalah pewaris dakwah para Nabi, memiliki peran yang paling penting, pembina dan pencetak generasi masa depan yang kelak mempunyai pengaruh besar bagi kehidupan. Guru mengemban amanah agung yang akan menjadi cahaya penerang bagi kejahiliaan. Menjadi seorang guru yang tidak hanya mengajarkan ilmu namun juga mendidik akhlak para generasi penerus masa depan negara. Sebagaimana imam Al Ghazali pernah berkata bahwa: “Siapa saja yang berilmu dan mengajarkannya, maka ia disebut ‘orang besar’ di segenap penjuru langit.”
Ironinya, guru saat ini mengalami polemik yang begitu sulit. Antara mengikuti naluri pendidik ataukah diam demi mempertahankan posisi, sebab adanya ruang abu-abu dalam penerapan disiplin siswa dan tergerusnya wibawa guru yang ditopang oleh asas kebebasan dalam sistem pendidikan. Dimana siswa merasa punya kebebasan untuk bertindak diluar batas etika, sementara guru merasa tak berdaya, sebab jika guru ingin menegakkan kedisiplinan bagi siswanya sering kali gurulah yang menjadi tersangka dan diadukan. Walau sejatinya,segala bentuk kekerasan tidaklah dibenarkan.
Hal ini juga tidak terlepas dari sistem pendidikan yang berbasis sekuler, memberikan ruang kebebasan dan tidak adanya perlindungan yang jelas bagi guru, guru berada dalam tekanan yang luar biasa. Tidak bisa dipungkiri bahwa dorongan naluri dan keimanan seorang guru untuk mengingatkan seseorang yang bersalah sebagai salah satu amal ma’ruf nahi Munkar dan wujud kasih sayang antara guru dan siswa (anak didiknya) menjadi dorongan kuat untuk menolak diam atas pelanggaran yang terjadi didepan mata. Namun tentunya bukan dengan jalan kekerasan.

Oleh karena itu, problematika dan dilematis yang terjadi tidaklah terjadi begitu saja tanpa sebab. Aturan yang penuh dengan keabu-abuan, bertindak salah diampun juga salah. Maka, perlunya intropeksi bersama dari segala pihak. Guru berupaya menanamkan keimanan yang kuat dalam dirinya, menjadi seorang yang dihormati karena ilmunya dan dimuliakan karena akhlaknya. Sehingga sebagai seorang guru juga harus berupaya menjadi suri tauladan bagi siswanya. Seorang siswa memahami jati dirinya sebagai hamba Allah yang penting untuk menjaga adab dalam proses menuntut ilmu. Sistem pendidikan yang diterapkan sistem pendidikan yang komprehensif yang tidak hanya fokus pada isi otak namun juga pada nilai karakter dan adab seseorang yang hanya bisa dibentuk dalam sistem pendidikan Islam. Sistem ini, mewujudkan kesadaran akan jati diri sebagai seorang hamba Allah yang mempunyai arah tujuan diciptakannya dan menyadari bahwa segala perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban. Selain itu, aturan sosial maupun seluruh aspek lainnya harus sejalan dan mendukung tujuan utama dari sistem pendidikan Islam tersebut sehingga tidak timpang dalam pelaksanaannya.
Walhasil, generasi yang paham siapa dirinya dan arah hidupnya akan terwujud menjadi generasi yang mampu bangkit menjadi pemimpin yang tidak hanya menguasai ilmu namun memiliki adab yang mulia serta mampu bangkit menebar kebaikan ke seluruh alam bukan generasi pemimpin yang merusak. Sebagaimana pemuda pemudi di masa kejayaan Islam atas jerih payah seorang guru yang memberikan teladan yang mulia, sistem yang diterapkan menjaga dan melindungi keimanan seseorang sehingga mampu mencetak generasi pemimpin seperti Muhammad Al Fatih, cendekiawan muslim seperti Ibnu Sina dan pakar matematika, astronot dll lahir dengan penerapan sistem yang komprehensif membentuk dan menjaga keimanan seseorang untuk mewujudkan generasi khalifatul fil Ardi dan menjadi penebar Rahmat bagi seluruh alam. Wallahu ‘alam.







