Makassar, Mediator Jurnal TV
Situs Cagar Budaya Fort Vreedeburg te Makassar pada tahun 1921. Gambar kiri menunjukkan suasana di lokasi yang diduga bekas benteng tersebut Situs Cagar Budaya Fort Vreedeburg. Dimana saat ini, telah berdiri megahnya bangunan kantor Bank BNI Makassar.
Yang entah didirikan pada tahun berapa, sehingga situs cagar budaya Fort Vreedeburg hilang dengan adanya gedung kantor BNI Makassar
Pemangku adat Kerajaan Tallo Ma’gau Raja Tallo XIX Muh. Akbar Amir Sultan Aliyah mengatakan,” Jika dirinya sebagai pemangku adat,sudah lama menyurat dan mengklarifikasi tentang landasan hukum pihak Bank BNI Makassar, ucap Muh. Akbar AmirDia menambahkan, beberapa hari yang lalu bersama Tim Investigasi PANI dengan Media partner Pasukan Adat Nusantara Indonesia di Kantor Bank BNI Makassar. Tim Investigasi yang terdiri Pimpinan Umum/Redaksi Media cetak/Online dan TV digital Mediator Jurnal TV, Kordinator Tim Investigasi PANI Djunaedi dan Ma’gau Raja Tallo XIX Makassar Muh. Akbar Amir Sultan Aliyah, yang juga Ketua Umum DPP PANI.

Namun tidak ada jawaban sama sekali, dan menurut staff bagian Devisi Hukum Bank BNI Makassar. Akan kami sampaikan ke rapat dewan Direksi, apa yang disampaikan. Dan akan menghubungi, setelah ada hasil keputusan, ucap Raja Tallo XIX meniru ucapan pegawai Bank BNI Makassar
Fort Rotterdam punya Terowongan Menuju FORT Vreedeburg te Makassar. Benteng itu konon dihadiahkan Belanda kepada Raja Bone dan kini Benteng Fort Vreedeburg. mana jejaknya kini?
Di kutip dari tulisan/narasi berita RIDWAN MARZUKI, tentang sejarah keberadaan benteng Fort Vreedeburg. Tak banyak yang tahu atau kenal nama Fort Vreedeburg te Makassar. Apalagi mengidentifikasinya sebagai salah satu benteng yang pernah ada di metropolitan ini.
Awalnya Fort Vreedeburg te Makassar ditinggali oleh pasukan Belanda. Tetapi karena Aru Pallaka bekerja sama dengan Belanda melawan Kerajaan Gowa, akhirnya benteng itu diserahkan kepada Raja Bone tersebut.
Staf teknis Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar, Muhammad Natsir, membenarkan penyerahan benteng tersebut. Menurut dia, memang ada sumber yang menyebutkan bahwa Belanda memberi hadiah benteng kepada Aru Pallaka. “Dan benteng yang dimaksud adalah Fort Vreedeburg te Makassar,” ungkap Natsir
Lebih jauh, menurut Natsir, tempat berdirinya Fort Vreedeburg te Makassar berada di sekitar Lapangan Karebosi. Posisi tepatnya berada di sebelah timur Karebosi. Natsir lalu menunjuk bangunan kantor Bank BNI sebagai lokasi bekas benteng. “Tetapi kita belum punya data ril penggalian tentang itu,” imbuh Natsir.
Menurut cerita yang berkembang, Fort Vreedeburg te Makassar berhubungan langsung dengan Fort Rotterdam. Konon, kedua benteng ini dihubungkan sebuah terowongan. “Ya, ada ruang bawah tanah yang menghubungkan antara Fort Rotterdam dengan Fort Vreedeburg te Makassar,” tambah Natsir.
Namun, lanjut Natsir, informasi tersebut juga belum memiliki data akurat. Informasi tersebut hanya berlanjut dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Tetapi asumsi ini sebetulnya bisa mendapat pembenaran jika melihat konstruksi Fort Roterdam. Di mana, di bagian timur benteng terdapat sebuah pintu gerbang yang kini sudah tertutup.
Pintu gerbang ini sering juga disebut pintu belakang. Dulunya berfungsi sebagai pintu utama, tetapi selanjutnya posisi pintu utama dipindahkan ke bagian barat. Dari pintu belakang inilah yang diyakini sebagai pintu menuju terowongan yang menghubungkannya dengan Fort Vreedeburg te Makassar. Tepat di bagian belakang pintu itu kini terdapat rumah warga.

Untuk sampai ke pintu, kita harus menyusuri lorong yang mengikuti format huruf “S”. Di samping kiri pintu, terdapat tangga undakan menuju ke bagian atas benteng. Terkait arsitektur Fort Vreedeburg te Makassar, Natsir menilai jika konstruksinya tak jauh beda dengan Fort Roterdam. “Bisa jadi mengikuti bentuk Fort Rotterdam yang dipadu dengan bentuk kerajaan,” terang dia.
Fungsi Fort Vreedeburg te Makassar untuk melindungi Belanda dari serangan Kerajaan Gowa. “Belanda mau kuat, maka ditaruhlah orang-orang Aru Palakka di sekitar benteng,” terang Natsir. Nasir menjelaskan, untuk menentukan lokasi suatu cagar budaya harus dilakukan penelitian dan studi arkeologis sebelumnya.
Selanjutnya dilakukan ekskavasi atau penggalian setelah objek arkeologis telah ditentukan. Kesulitan yang dihadapi untuk menemukan sisa-sisa Fort Vreedeburg te Makassar karena sudah tertimbun tanah. Oleh karena itu, satu-satunya jalan adalah ekskavasi yang serius.
(Tim. Investigasi PANI/MJTV)






